Showing posts with label water tourism. Show all posts
Showing posts with label water tourism. Show all posts

Friday, March 28, 2008

Muara, “Negeri kecil” Eksotis nan Potensial

Pemandangan perbukitan menghijau, lembah curam dan—tentu saja—panorama keindahan Danau Toba yang membiru, tak bisa lepas dari pandangan mata ketika memasuki wilayah Muara; sebuah kecamataan kecil di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Setidaknya, inilah yang akan teralami ketika memasuki kawasan Muara jika melakukan perjalanan lewat transportasi darat.

Thursday, March 27, 2008

Jika Danau di Atas Danau


Berjalan di sisi sebuah danau memang mengasyikkan. Air, bagian terpenting dari alam, memang selalu mampu menawarkan sejuta interpretrasi tentang kesempurnaan sebuah keindahan, apalagi di sebuah wilayah yang masih alami.Tanpa sentuhan manusia-manusia serakah, penjahat-penjahat alam sebuah istilah untuk para penebang-penebang hutan liar.

Bagaimana menggambarkan sebuah danau di atas danau? Pertanyaan itu yang pertama kali muncul dalam benak saya ketika mendengar dan membaca sekilas untuk menjelaskan Danau Aek Natonang, yang berada di dataran tinggi wialayah Samosir ini.

Di Kabupaten Samosir sebenarnya terdapat dua danau di atas danau. Pertama Danau Sidihoni, jaraknya sekitar 8 kilometer dari Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Dikelilingi oleh bukit landai berwarna hijau muda dan deretan pohon pinus, semakin menambah keindahan. Sayang, danau ini tampaknya “merana” alias belum dikelola dengan baik. Sayangnya lagi, sebagian besar penduduk di sekitar danau masih memanfaatkan airnya untuk fasilitas mandi cuci kakus (MCK). Selain itu, terbatasnya sarana prasarana transportasi juga membuat obyek wisata ini jarang mendapat kunjungan wisatawan.

Itulah Samosir. Kabupaten yang baru dimekarkan pada tahun 2003 ini memang memiliki banyak potensi di sektor pariwisata. Danau Sidihoni, yang kini merana ternyata bukan dialaminya sendirian. Danau induknya, Danau Toba, juga merana. Ia mendapatkan “perlakuan” yang sama dari masyarakat maupun pemerintah setempat dan pusat.

Seandainya ia bisa berbicara, ia pasti berontak. Seandainya ia memiliki air mata, mungkin ia akan menangis sepanjang waktu dan air matanya tu akan menjadi air danau yang jernih.” Dalam perjalanan pulang, saya mengandai-andai.

Masyarakat memperlakukannya seperti kamar mandi, mandi sesuka hati, mencuci pakaian, hingga buang hajat. Itulah yang terjadi dengan danau terbesar di Asia Tenggara itu

Lupakan saja sejenak tentang nasib Danau Toba. Sekarang, tibalah saatnya mengunjungi lokasi wisata yang hampir jarang disentuh kaki manusia itu. Di mana? Jawabannya, Danau Aek Natonang. Bangaimana menuju ke sana?

Inilah yang menjadi persoalan sejak menginjakkan kaki di Bumi Samosir itu, baru-baru ini. Sejak tiba di Kecamatan Pangururan melalui jalan darat lintas Tele dari Kabupaten Sidikalang, seorang pedagang makanan menjelaskan di ibukota kabupaten seluas 1.419,05 km itu

Ia pun bercerita, tapi dengan terlebih dahulu memesan mie rebus. Sangat pas dengan kondisi cuaca, dingin. Berdasarkan ceritanya inilah kami memulai perjalan menuju danau yang semakin “misterius” — setidaknya buat saya – esok harinya.

Dari Pengururan perjalanan kami lanjutkan menuju Tomok, yang dikenal dengan atraksi pertunjukan patung Sigale-galenya. Konon, menurut Sidabutar (46), pengelola Museum Tomok, kata “Tomok” berasal dari kata “Tolmok” yang artinya seorang anak laki-laki dewasa yang memiliki postur tubuh gemuk dan pendek. “Tapi tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu pendek, sedang-sedanglah” katanya ketika kami mengujungi museum yang penuh dengan benda-benda bersejarah peninggalan suku Batak itu.

Secara detail ia pun menerangkan satu-persatu benda pusaka yang susah payah didapatinya itu, mulai dari Hobbung tempat tidur Raja Sidabutar yang sekaligus dijadikan sebagai tempat penyimpanan harta sang raja), Tongkat Tunggal Panaluan, Laklak (buku yang mencatat sejarah Batak dan kalender penanggalan kuno), rudang, ulos, appang na bolon, parhokkom, pangir.

“Salah satu upaya untuk melestarikan peninggalan yang banyak menyimpan nilai seni dan budaya Batak itu, setiap tahunnya dirayakan dengan menyelenggarakan upacara yang disebut dengan Horja Bios” katanya dengan semangat

Show Time


Perjalanan dimulai. Saya pun teringat sebuah ucapan, entah sebuah lirik lagu atau suara dari sebuah iklan di TV: “it’s show time”.

Dengan terlebih dahulu menyewa sebuah motor bebek seharga Rp 50 ribu kami pun memulai perjalanan menuju Danau Aek Natonang. “Jika lae mau ke Danau Aek Natonang, di sana kau akan menemukan sebuah persimpangan tepatnya di sebelah kanan, nah dari situ jalan terus, tapi hati-hati jalannya parah,” kata seorang yang tak kukenal memberi petunjuk.

Sejauh sekitar 1,5 jam terasa melelahkan. Akses jalan berliku-liku dan mendaki. Setelah melalui Desa Parmonagan kami pun tiba di Desa Tanjungan tempat di mana Danau Aek Natonang berada. Memang, sebelum mencapai Parmonangan, akses jalan sudah diaspal hotmix meskipun ketika tiba di Desa Tanjungan, perjalanan mulai tergganggu akibat kondisi jalan yang samasekali tidak layak. Kondisinya parah dan memprihatinkan. Rusaknya jalan diakibatkan akses dipergunakan untuk keperluan truk-truk bermuatan kayu gelondongan dengan muatan berton-ton beratnya

Di Desa Tanjungan, tampak aktivitas kehidupan masyarakat seluruhnya bertumpu pada pertanian. Sebagian bekerja sebagai tukang potong kayu, entah untuk dibawa ke mana, namun setidaknya penebangan-penebangan itu, bukan tidak mungkin akan merusak tofografi yang mayoritas perbukitan yang landai. Sebagian juga ditanami dengan biji kopi, bawang dan kacang tanah

Danau Aek Natonang ternyata sangat indah. Meskipun airnya tidak sejernih air Danau Toba, namun ketenangan air dan suasana alamnya yang asri membuat siapa pun yang berkujung ke sini betah untuk berlama-lama. Sayang, di tempat ini belum terdapat satu pun sarana pendukung untuk mengundang minat wisatawan untuk berkunjung ke sini. Alhasil, kebosanan, mungkin menjadi sebuah “hadiah” yang lama-lama merasuk ketika tiba di sini

Itulah Danau Aek Natonang, kembali saya mengandai-andai: “Seandainya Danau-danau di Samosir ini (Danau Sidihoni, Danau Aek Natonang dan Danau Toba) bisa berbicara, mereka akan berontak, seandainya mereka bisa menangis, mungkin akan banyak danau-danau kecil akibat tangisan itu”. Tak tarasa kami sudah sampai di Tuktuk Siadong, tempat di mana kami menginap.

Mmh, dingin…. Tapi, nikmat juga!

Danau Toba, Nasibmu Kini…


Setiap kali mata memandang, Danau Toba memang selalu mampu, paling tidak memberi makna keindahan. Inilah lukisan alam anugerah Sang Penguasa. Sebenarnya ini adalah mutiara. Hanya saja, ketidakpedulian kita seakan-akan membuat ia merana.

Danau Toba terbentuk dari letusan sebuah gunung berapi. Puncak gunung tersebut runtuh dan terjadilah Danau Toba. Sebagian reruntuhan itu menjadi Pulau Samosir. Peristiwa alam membuat kawasan itu menjadi indah. Danau seluas 6,60 kilometer persegi itu dikelilingi dinding-dinding bukit yang menjulang tinggi hingga 480 meter di atas permukaan laut.

Bukit di sebelah tenggara dan timur disebut Bukit Habinsaran dan Simanukmanuk. Dinding itu memisahkan Uluan dan pantai timur Sumatera. Uluan merupakan daerah perbukitan tinggi yang di bawahnya terdapat Toba Holbung atau Lembah Toba. Di kawasan ini terdapat lahan pertanian yang subur dan berpenduduk padat. Kawasan ini terletak di antara Porsea dan Balige.

Panorana alam Lumban Silintong, misalnya. Lokasi wisata yang berada di Kabupaten Toba Samosir, Balige, ini ternyata menyimpan potensi yang bisa dijual. Mengapa begitu optimis untuk menjualnya?

Sejauh ini Kabupaten berpenduduk 169.577 jiwa ini masih dikenal miskin. Bayangkan pertumbuhan ekonominya belum mampu mencapai 1 trilliun. Sementara 80 persen penduduk kehidupan mereka bersumber dari sektor pertanian. Maka, sifat optimis pemerintah setempat sangat perlu dalam pengembangan sektor ini.

Benarkan Bali hanya dikenal lewat panorama alam Pantai Kute? Keberhasilan mereka pastinya juga didukung oleh banyak aspek yang tak kalah penting, budaya, keramahtamahan, dan segala aspek yang memungkinkan untuk mengundang minat pelancong untuk datang keduakalinya.

Danau Toba yang Minim Polesan

Pada dekade sebelumnya semarak dunia pariwisata Bona Pasogit (wilayah Tapanuli Utara dan sekitarnya–red) masih akrab disuguhi dengan sajian-sajian budaya khas daerah setempat. Dan tentu saja, ini merupakan daya tarik tersendiri melihat pada hakikatnya nilai keindahan dan kenikmatan sebuah sajian wisata sebenarnya bukan terletak hanya pada bentangan keindahan alamnya saja. Budaya yang berbau khas sebenarnya juga merupakan aset bernilai tinggi.

Ini sudah menjadi sesuatu yang langka ditemui dalam gejolak perpariwisataan Bona Pasogit. “Sebenarnya kendalanya bukan pada kemampuan dan ketidaktersediaan sarana untuk memenuhi sajian budaya itu. Bumi Tobasa sebenarnya masih menyimpan ‘sejuta’ kekayaan budaya yang layak dijual untuk pengembangan pariwisata. Hanya saja maukah kita? Sebaliknya inilah yang terjadi, tidak adanya political will dari pemerintah setempat maupun dukungan masyarakat.” Seperti yang diungkapkan Kabid Litbang dan Evaluasi Pelaporan Bappeda Kabupaten Tobasa Sunggul Tanpubolon memberi komentar seputar permasalahan ini.

Kekhasan budaya yang dimiliki masyarakat Bona Pasogit saat ini sebenarnya mengalami keterpurukan. Misalnya, sejauh ini tarian “tor-tor” hanya dilaksanakan pada acara-acara adat saja. Pada masa silam, masyarakat Bona Pasogit juga masih sering dimanjakan dengan hiburan “opera Batak” yang menampilkan cerita-cerita Suku Batak dan menyimpan pesan moral khususnya bagi kaum muda. Sekarang sajian hiburan seperti ini sudah langka. Akibatnya, orang-orang setempat pun akhirnya lebih memilih hiburan lain.

Seperti yang dikatakan Sunggul, Tobasa sebenarnya bukan tidak memiliki orang-orang yang mahir dalam pertunjukan opera Batak, hanya saja masalahnya terletak pada ketidak adanya kemauan, terutama antusiasme pemerintah. “Bah, sampai kapan kita menunggu?.”

Prinsip “Sude Do Raja”

Sajian wisata panorama Lumban Silintong, misalnya, jika dilihat dari segi aspek fasilitas untuk menikmati lukisan alam Danau Toba sebenarnya sudah memadai. Pada tepi-tepi danau barangkali kita tidak akan mengalami kesulitan untuk menemukan lokasi yang pas dan aman untuk bersantai dan memanjakan mata kita untuk menikmati karunia Tuhan itu. Sekaligus ditambah dengan sajian yang membuat lidah kita bergoyang dengan sajian khas ikan bakar. Jika doyan memancing, di beberapa tempat ini juga sangat pas. Beberapa gubuk-gubuk pemancingan juga tersedia.

Sama halnya dengan lokasi wisata lainnya. Seperti Parapat Danau Toba, misalnya. Di lokasi danau yang terbentuk dari letusan Gunung Toba, terletak 905 meter di atas permukaan laut dengan keliling 294km, luas permukaan danau 1.100 km² dengan kedalaman maksimum 529 meter ini, pelancong juga serasa dimanjakan dengan tersedianya gubuk-gubuk kecil untuk beristirahat dan menatap luas hamparan air tawar yang luas membentang. Selain itu juga tersedia sarana penginapan dengan aneka variasi kelas, yang tentu saja disesuaikan dengan ketersediaan kocek.

Demikian juga halnya dengan panorama alam Tuktuk Siadong di Kecamatan Ambarita Kabupaten Samosir. Ini bukan berita baru lagi, bahwa Samosir diprioritaskan menjadi kawasan wisata andalan Sumatera Utara sejak kabupaten seluas 1.419,05km2 ini dimekarkan pada tahun 2003.

“Apa yang membuat wisata Parapat Danau Toba, begitu juga kawasan lainnya merosot jika dari jumlah pengunjung dari tahun ke tahun, ialah karakter masyarakat setempat yang menganut prinsip ‘sude do raja’ (semua raja),” Seperti dikatakan Ketua DRRD Kabupaten Simalungun Syahmidun S Sos.

Masyarakat Bona Pasogit masih terikat oleh sejarah yang menyangkutpautkan dirinya dengan budaya lama. Misalnya, pada masa silam mereka, khususnya mereka yang berkecimpung dalam bisnis pariwisata, tidak sedikit dari mereka merupakan keturunan raja. Bukti lain juga tersirat dari marga yang mereka lekatkan pada nama mereka yang tidak sedikir memakai embel-embel “raja” di belakangnya. Ini masih sangat sulit untuk dilepas dari mereka.

Akibatnya, mereka tidak bisa memposisikan diri mereka sebagai pelayan karena sudah terbiasa dilayani. Dampaknya, pelancong sering mengurungkan niatnya untuk datang keduakalinya. “Singkatnya, masyarakat setempat masih sulit untuk memposisikan dirinya sebagai “pelayan”.

Ini sudah terbukti. Fenomena ini dapat dibandingkan dengan pengelolaan dan perkembangan pariwisata lain di Tanah Air. Benarkan kemerosotan bisnis pariwisata Sumatera Utara khususnya Danau Toba hanya dilatarbelakangi oleh krisis BBM yang melanda negara kita atau ketidakterjaminan keamanan bagi para pelancong? Ini perlu dicermati.

Manusia sangat membutuhkan ketenangan di kala realitas kehidupan saat ini yang penuh dengan kesibukan dan tanggunjawab. Mereka butuh kedamaian lewat sajian hiburan dan wisata. Mereka butuh ketenangan dan yang paling utama mereka ingin dilayani setelah sibuk “melayani” dan penat dalam segala kesibukan urusan pekerjaaan, khususnya bagi masyarakat urban.