Tuesday, March 25, 2008

Graha Maria Annai Velangkanni, Harmoni di antara Pluralitas


SORE itu di sebuah taman mini, di Graha Maria Annai Velangkanni tampak beberapa ibu-ibu sedang berdiri membaca sebuah ukiran di dinding. Di dinding taman yang diberi nama Taman Mini Santo Giovanni Paolo II itu terukir kalimat terakhir yang pernah diucapkan Musafir dari Polandia Paus Johannes Paulus II: ”Magnificat Animo Dei.”

Di tempat lain di graha itu, beberapa remaja juga terlihat sedang menikmati suasana. “Di sini sejuk dan damai,” kata Joni (23) dan Ida (20), yang baru kali pertama berkunjung. Nurlela (31) lebih sering lagi. Baginya, tempat ini memberi inspirasi. FR James Bharataputra SJ sendiri menjuluki tempat ini sebagai oase di “padang gurun.”

Memasuki Graha Maria Anna Velangkanni di Jl Sakura III No 10 Tanjung Selamat memang suatu pengalaman menarik. Berada di sudut Kota Medan dan jauh dari kebisingan. Di lokasi seluas 6.000 meter persegi orang-orang dapat menikmati kenyamanan dan kesejukan. Di sini setidaknya tertangkap sebuah makna yang pantas diteladani, harmonsasi di antara pluralitas. Semua orang datang untuk “berteduh” di sini, dari berbagai keyakinan dan budaya.

Secara khusus, tempat ini memang diperuntukkan bagi umat Katolik yang hendak melakukan devosi kepada Bunda Maria. Kenyataannya, orang-orang yang berkunjung ke tempat ini datang dari keyakinan yang berbeda seperti Hindu, Islam dan Buddha. Di sisi lain, pertemuan antar budaya dan etnis juga terjadi di sini. “Raju” bersapa dengan “A Seng”, “Ali” bersapa dengan “Togar”, “Sembiring” bersapa dengan “Joko” dan seterusnya dan seterusnya.

Mereka bersatu dan bersahabat di sini. Setidaknya mereka datang untuk menikmati kesejukan taman yang adem secara spiritual. Dan yang pasti keharmonisan terjalin di sini. Ini pantas menjadi teladan, melihat saat ini negara kita sedang dihadapkan dengan konflik yang dilatari agama dan suku seperti yang terjadi di Poso, yang bahkan telah menelan korban jiwa.

Sumatera Utara boleh bangga. Peristiwa seperti itu masih jauh, dan semoga tidak. Graha Bunda Maria Anna Velangkanni dapat dijadikan sebagai wadah pemersatu antar umat beragama di Tanah Air, khususnya di Sumatera Utara. Seperti yang diucapkan sang pencetus ide FR James Bharataputra SJ, “manusia adalah sama sebagai ciptaan Tuhan.”

“Tempat ini menawarkan nilai persatuan itu meski dengan keyakinan yang berbeda.” Seorang India dari Serikat Jesuit (SJ) yang telah berkarya selama 34 tahun di Keuskupan Agung Medan itu berkomentar. Memang, seperti kata James kemudian, seperti oase, graha ini hadir sebagai pelepas dahaga ketika “kekeringan” sedang terjadi. Kesibukan sehari-hari di era modernisasi saat ini mungkin telah membuat orang jenuh dan membutuhkan kesejukan. Untuk itu tempat ini hadir bagi siapa saja, mengundang siapa saja, tanpa pandang bulu untuk merasakan keteduhan sebab tempat ini hadir untuk menyatukan perbedaan.

James mengatakan pembangunan graha ini diawali dari mimpi. “Saya adalah pemimpi hal yang indah-indah, demikian juga dengan hati manusia, saya ingin agar hati setiap orang yang datang ke tempat ini menjadi indah, hati indah yang memiliki kesejukan dan kedamain.”

Inilah yang mengilhami pemikiran James yang masih terlihat bersemangat itu meski usianya kini telah mencapai 69 tahun. Ingatannya pun masih tajam. Pengalaman James hidup di lingkungan budaya Hindu semasa kecil tetap melekat meski ia hidup dengan disiplin Katolik dari kedua orangtuanya. Keharmonisan di antara perbedaan itu memberinya inspirasi untuk mendirikan sebuah graha seperti Velangkanni Shirine yang sudah ada sejak 350 tahun lalu. Dan kini mimpi itu menjadi kenyataan.

Jika melihat dengan utuh model bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 6.000 meter persegi itu, maka yang tertangkap imajinasi adalah nuansa budaya Hindu-Islam. Gaya arsitektur yang diaplikasikan adalah desain bangunan gaya Indo-Mogul yang ngetren di era Kerajaan Mongolia Kuno dulu.

Namun demikian, Pastor James menepis anggapan bahwa tempat ziarah spiritual itu dikhususkan bagi umat Kristen atau budaya tertentu saja. “Saya juga ingin mempersatukan budaya segala bangsa melalui tempat ini,” katanya.

“Pintu Graha Bunda Maria Anna Velangkanni terbuka bagi setiap keyakinan dan budaya untuk mengalami kesejukan iman dari Sang Pencipta karena pada dasarnya ide pendirian graha ini berangkat dari mukjizat yang dialami oleh umat Hindu di India tepatnya di Vailangkanni, sebuah dusun kecil di pesisir Tanjung Bengala bagian India Selatan, di mana mereka mengalami peristiwa penampakan Bunda Maria. Nah, hal itulah yang menginspirasikan berdirinya graha ini.”

James bercerita, pada pertengahan abad-17 atau sekitar 350 tahun yang lalu di Velangkanni, Bunda Maria menampakkan dirinya sebanyak tiga kali. Waktu itu jauh sebelum Maria menampakkan dirinya di Goa Lourdess Prancis dan Portugal. Pada awalnya, Velangkanni Shrine yang ada di India sekarang adalah sebuah kapel kecil. Kemudian dibangun kembali oleh pelaut asal Portugis yang sebelumnya mengalami hempasan badai. Kapal mereka yang hendak menuju Maccau dari Eropa melalui lautan Sri Langka terombang-ambing. Namun mereka akhirnya selamat setelah melakukan devosi kepada Bunda Maria dan dalam devosi itu mereka berjanji akan mendirikan sebuah gereja di mana saja kapal mereka akan berlabuh dengan selamat. Herannya, kapal mereka berlabuh di Velangkanni. Mereka pun menepati janjinya.

Kemudian di tempat ini, sekitar 90 kilometer dari Chennai, Tamil Nadu India, orang-orang yang sakit datang berdoa dan disembuhkan. Nama “Maria Annai”pun diberi yang dalam Bahasa Tamil berarti “bunda”. Tempat ini menarik hati orang-orang dari berbagai bangsa dan kepercayaan mana pun untuk berziarah. Sejak saat itu pula tempat itu dijuluki “Lourdess Timur” dan diangkat statusnya sebagai basilika oleh Sri Paus Yohannes ke-23.

“Saya ingin peristiwa seperti di Velangkanni juga terjadi di Indonesia, kalau bisa diawali dari Kota Medan,” katanya. Pembangunan graha itu pun dimulai pada September 2001. “Saya mulai dengan keyakinan yang teguh bahwa mimpi saya akan terwujud,” kata Pastor James tersenyum.

Pada tahun 2000 Uskup Mgr A G Pius Datubara OFMCap meminta James untuk mendirikan sebuah balai pertemuan khusus untuk orang-orang India Tamil yang tersebar di Kota Medan. James kemudian menyetujuinya dan mengusulkan agar di tempat itu juga didirikan sebuah tempat devosi kepada Bunda Maria. “Dengan demikian kita bisa membina orang dengan imannya,” katanya.

Berawal dari keyakinan pembangunan pun dimulai. Setelah mengurus proses perizinan pendirian pondasi pun dilakukan. Soal dana, James mengatakan ia tak pernah ragu. Pembangunan pun berlanjut. James mengumpamakan, Tuhan sebagai panitia, Bunda Maria menjadi penyedia dana dan ia sendiri sebagai orang yang dihunjuk sebagai pelaksanaanya.

Dalam proses pembangunan, James mengatakan ia dibantu oleh Ir Yohannes Tarigan seorang dosen di Fakultas Teknik di USU dan UNIKA St Thomas Medan selaku konsultan yang menawarkan jasanya dengan gratis. Selama empat tahun akhirnya bangunan selesai dikerjakan. “Saya selalu yakin mimpi saya akan terwujud,” katanya

Soal dana pembangunan James mengaku banyak dibantu banyak pihak, termasuk dari pihak yang berbeda keyakinan. 60 persen berasal dari dalam negeri dan selebihnya dari luar negeri.

***
FEBRUARI 2002 di sebuah rumah di Jl Kediri No 27 (Kampung Keling) Medan, sebuah peristiwa naas terjadi. Rumah itu adalah rumah seorang sahabat di mana Pastor James tinggal untuk sementara. Sahabat itu memberinya sebuah kamar di lantai dua untuk peristirahatan James sementara. Namun naas, lantai dua rumah itu dilahap si jago merah akibat arus pendek. Termasuk kamar James. Yang tersisa hanya puing-puing.

Tiga hari sebelum peristiwa itu, James menaruh senilai uang Rp 10 juta di atas meja kamarnya. Uang itu adalah sumbangan dari Aceh. Untuk diketahui, sebelumnya Pastor James pernah berkarya di Aceh selama 8 tahun dan di Papua selama 3 tahun.

Tiga hari kemudian, ketika sedang menunggu keberangkatan pesawat yang akan kembali ke Medan, ia menerima telepon yang mengatakan bahwa kebakaran telah terjadi dan menghanguskan lantai dua rumah itu, termasuk ruangannya sendiri. “Saya yakin uang itu pasti akan ikut terbakar karena uang itu memang berada di ruangan saya itu.

Anehnya, menurut Pastor uang itu tidak ikut hangus terbakar dan ditemukan dengan utuh di antara puing-puing bangunan yang telah hangus. “Ini aneh dan bagi saya dan ini adalah keajaiban,” kenangnya. Sebelumnya ia meninggalkan uang itu dengan terburu-buru dan tidak sempat menyimpannya di bank sebab harus mengikuti sebuah acara penting di Jakarta.

Keajaiban ini segera tersebar melalui media massa dan dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya terdengar ke daerah lain bahkan ke telinga negeri tetangga, Malaysia dan Singapura. Setelah membaca peristiwa itu dari surat kabar, seorang ibu dari Aceh terharu, datang dan menganjurkan supaya “uang ajaib” itu tidak dipergunakan dan sebaiknya disimpan saja dan menggantikan sejumlah uang itu. “Simpan saja uang itu dan ini sebagai gantinya,” kata ibu tersebut saat itu, seperti yang ditirukan James.

Demikian kisah ini berlanjut, dua lembar dari lembaran-lembaran uang ajaib itu kemudian dibawa oleh seorang sahabat dari Singapura. Melalui cerita sahabat tadi, peristiwa aneh itu pun tersebar dan membuat sebuah keluarga terharu. Tanpa menyebutkan identitas, keluarga itu kemudian memberikan bantuan sebesar Rp 250 juta.

Untuk yang kedua kalinya, setelah James menjelaskan ide pembangunan itu kepada keluarga tersebut dan beberapa keluarga lain di Singapura melalui sahabat yang juga pastor itu, pada waktu yang tidak begitu lama sesudahnya, bantuan dalam jumlah yang sama kembali datang mengalir ke rekening James di bank.

James pun terharu. “Saya semakin heran dan terkejut,” katanya. James kemudian mengundang keluarga itu untuk melihat kondisi graha yang sedang dibangun. Pada waktu yang sama keluarga itu kembali memberikan bantuan untuk ketiga kalinya.

Ketika keluarga itu kembali ke Singapura, Nenek Teresa Yap Lian Hoe seorang ibu tua yang telah puluhan tahun bekerja untuk keluarga itu sebagai pembantu rumah tangga ikut terharu. Pada saat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ibu yang sepanjang hidupnya tidak menikah itu dengan rela memberikan tabungan yang disisihkannya sepanjang hidupya untuk disumbangkan untuk pembangunan graha itu. “Sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir Nenek Teresa Yap Lian Hoe meminta majikannya untuk mengantarkan persembahan seumur hidupnya itu untuk pembangunan graha ini,” kenang James terharu.

Demikian seterusnya, kata James. Bantuan pun datang dari berbagai pihak yang hampir seluruhnya mengalir lewat rekening bank tanpa sepengetahuannya. “Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa dana yang mengalir ke rekening sumbangan di bank selalu bertambah setiap minggunya. Saya heran juga…,” cetusnya.

“Padahal setiap minggu saya selalu ambil dana tidak sedikit dan itu saya pergunakan untuk biaya pembelian bahan bangunan dan biaya pekerja dan rekening itu selalu tidak pernah berkurang, bahkan sebaliknya.”

Kini bangunan dengan biaya sebesar Rp 4 milliar itu berdiri seperti pertama kali James memimpikannya. Mimpinya untuk memberikan suatu oase bagi kehidupan manusia yang sedang haus akan segala hal terwujud sudah. James memandang bahwa manusia saat ini sedang dilanda rasa haus dalam berbagai hal, nama dan kehormatan, kekayaan dan uang. Inilah yang sedang melanda manusia modern saat ini dan oase ini hadir untuk melepaskan dahaga mereka. “Silahkan datang hai yang letih dan berbeban berat dan rasakanlah keteduhan di sini,” katanya.

Pada 1 Oktober 2005 dengan resmi dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara Drs Rudolf Pardede dan Uskup Agung Medan Mgr A G Pius Datubara OFMCap. Dan sejak saat itu graha ini menarik banyak orang dari Nusantara dan manca negara.

James sempat menyayangkan kekurangan fasilitas di tempat ini yakni belum tersedianya sarana penginapan untuk mendukung kunjungan peziarah dari luar Kota Medan dan negeri tetangga. Namun kemudian pada tahun 2006 mimpi itu pun terwujud. Meski kapasitas yang tersedia hanya beberapa kamar saja karena keterbatasan tempat namun setidaknya dengan adanya penginapan kecil ini mampu mengatasi kendala yang sering terjadi pada pengunjung yang ingin berlama-lama tanpa harus repot mencari penginapan di tempat lain. Penginapan ini mampu menampung sekitar 20 orang pengunjung, kata James, selain dilengkapi dengan kantin kecil.

***

SORE itu keheningan masih terjaga. Joni dan Ida melanjutkan perkelanaannya di graha itu. Kelihatannya mereka sedang memandang-mandang ke bawah dari lantai dua bangunan graha. Sesekali, keduanya mengamati lukisan-lukisan di dua buah tembok jalan layang naik menuju lantai dua graha itu. Lain pula dengan Nurlela, di dalam ruangan luas di lantai dua itu, ia kelihatannya sedang menikmati keheningan tempat itu. Ia sedang membaca sebuah buku dan kelihatannya tak mau diganggu. Kemudian saya menegurnya. “Saya senang menikmati suasana hening di tempat ini, sepertinya saya merasakan kedamaian,” katanya.

Sementara di halaman luar, beberapa remaja lain kelihatan sedang asyik bergantian dengan kamera ponselnya. Mereka ingin mengabadikan kedatangan mereka di tempat itu. Dan ibu-ibu tadi, ibu-ibu yang serius membaca tulisan di Taman Mini Santo Giovanni Paolo II yang dibangun untuk mengenang almarhum bapa segala bangsa itu, sudah beranjak ke tempat lain. Mereka sedang berdoa di sebuah kapel kecil.

Di kapel kecil yang diberi nama Kapel Maria inilah James mengawali mimpinya. Kapel kecil tempat berdevosi kepada Bunda Maria ini merupakan bangunan awal dari seluruh bangunan yang ada di graha itu. Menurut James, di sinilah doa-doanya sering didengar oleh Tuhan sehingga pembangunan graha terwujud hingga kini.

Maka, meski Graha Maria Anna Velangkanni baru diresmikan pada 2005, kapel ini sudah diresmikan sebelumnya pada 8 September 2001. Sebelum graha seutuhnya dibangun, kapel kecil ini sudah dipergunaan untuk doa harian setiap saat dan Doa Novena setiap Sabtu sore sepanjang tahun.

Dari kapel kecil ini juga, ide simbolis James untuk menyatukan surga dan bumi lahir. James ingin Graha Maria Anna Velangkanni menjadi wadah pertemuan antara surga dan bumi.“Di sinilah surga dan bumi bertemu. Di sinilah Tuhan Pencipta bertemu dengan bangsa manusia, makhluk ciptaan-Nya,” ungkap James.

James menjelaskan, gereja yang ada di lantai atas bertingkat tujuh dengan tiga menara berkubah merupakan simbol langit ke tujuh yaitu surga. Sedang jalan kedua layang yang tampak seperti merangkul, bersama lantai bawah melambangkan bumi. Maka pada dinding jalan layang terlukis kejadian-kejadian penciptaan hari demi hari.

Lukisan-lukisan lainnya secara implisit mewakili tema-tema penjelajahan religius di setiap sudut graha, baik interior maupun eksterior. Mulai dari peristiwa penciptaan, perjamuan kudus, penyaliban, dan kebangkitan. Inilah lukisan-lukisan sederhana namun memberi arti. Lukisan-lukisan yang dipersembahkan G R Andeas (28), lelaki India yang oleh James dijuluki sebagai “Little Micheleangelo”, yang diidentikkan dengan sosok pelukis kesohor Italia Micheleangelo.

Andreas tak pernah mengecap sekolah seni secara formal, tapi ia memiliki bakat memukau sebagai pelukis. “Bagi saya ia seperti Micheleangelo,” kata James.

Lukisan itu ibarat pencerita (story teller). Pembisik makna. Seperti makna desain bangunan yang juga sarat makna. Lantai dasar misalnya merupakan simbol bumi, tempat di mana kita hidup. Aula yang diberi nama aula St Anna, seperti kata James merupakan balai pertemuan umat Tuhan yang datang sebagai saudara tanpa memandang perbedaan suku bangsa, agama, bahasa dan budaya serta perbedaan lainnya.

Maka di tempat ini selain dipergunakan untuk acara berbau rohani, juga dipergunakan oleh orang-orang dari berbagai kalangan untuk mengadakan acara seperti pernikahan, acara adat marga, pertemuan mahasiswa dan berbagai kegiatan lainnya tanpa dipungut biaya standar. Jika biayanya dipatok maka orang-orang arang akan enggan datang ke sini karena persoalan ekonomis, kata James. “Kami hanya menyediakan kotak sumbangan yang nantinya sumbangan itu akan dipergunakan untuk biaya perawatan dan kebersihan.”

Itulah Graha Maria Anna Velangkanni, suatu tempat yang mungkin akan menjadi “oase di padang gurun” di sudut Kota Medan. Tawarannya mengajak kita untuk menghargai pluralitas. Menawarkan komposisi harmonisasi di antara pluralitas. Inilah makna sebuah cinta. Harmoni. Cinta yang berawal dari perbedaan. Sebuah tempat yang menawarkan keindahan, kedamaian dan kesejukan spiritual dan jasmani. Selamat datang dan nikmatilah pesona estetika spiritual ini.

Welcome…and taste the spirit.

Teks: Tonggo Simangunsong
Foto: James Bharataputra SJ collection

No comments: